Pernahkah Anda membayangkan sebuah momen kepulangan yang begitu indah? Di dalam Islam, meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat adalah impian setiap mukmin. Ada janji manis dari lisan Rasulullah SAW: perlindungan dari fitnah kubur. Namun, di balik kabar gembira itu, ternyata tersimpan sebuah rahasia besar yang bisa menjadi kunci persatuan umat Islam di seluruh dunia.
Selama ini, kita sering terjebak dalam perdebatan klasik: “Kapan sebenarnya hari baru dimulai dalam Islam?” Ada yang meyakini Magrib sebagai titik nol, namun ada pula yang berpegang pada Subuh. Perbedaan kecil ini dampaknya raksasa. Ia menjadi alasan mengapa kita sering berbeda hari saat memulai puasa Ramadan atau merayakan Idul Fitri. Kita seolah hidup di bawah langit yang sama, namun dengan jam yang berbeda-beda.
Jawaban atas kebingungan ini ternyata terselip dalam sebuah detail kecil di hadis riwayat Imam Tirmidzi nomor 994.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur.”
Mari kita bedah secara logis. Perhatikan kata “Atau” dalam sabda tersebut. Dalam kaidah bahasa, kata “atau” digunakan untuk membedakan dua hal yang tidak sama. Jika hari baru dalam Islam dimulai sejak Magrib, maka malam Jumat secara otomatis sudah masuk ke dalam hari Jumat. Lantas, mengapa Nabi SAW harus menyebutkan keduanya secara terpisah?
Pemisahan ini adalah isyarat kuat bahwa ada garis pembatas yang nyata antara dimensi “Malam” dan dimensi “Hari”. Garis itu bukanlah Magrib, melainkan fajar Subuh. Malam Jumat dimulai sejak matahari terbenam di hari Kamis hingga fajar menyingsing. Begitu azan Subuh berkumandang, itulah titik nol Hari Jumat dimulai. Artinya, jaminan perlindungan Allah bagi mereka yang wafat di waktu tersebut berlaku selama satu setengah hari penuh.
Temuan ini bukan sekadar utak-atik logika. Ini adalah potongan puzzle terakhir yang memperkuat visi besar dalam buku saya, “Masjidil Haram Menyatukan Kalender Islam Dunia”. Selama ini, kalender Islam sulit bersatu karena kita tidak punya standar waktu yang seragam. Kita terlalu sibuk dengan rukyat lokal di wilayah masing-masing tanpa memiliki jangkar waktu yang disepakati.
Bayangkan jika kita semua sepakat bahwa hari dimulai dari Subuh dengan menjadikan Masjidil Haram sebagai pusat waktu dunia, atau yang saya sebut MMT (Makkah Mean Time). Jika ini terwujud, maka dari ujung timur Indonesia hingga ujung barat Maroko, kita akan berpuasa pada hari yang sama, berlebaran pada tanggal yang sama, dan merayakan Idul Adha di bawah rembulan yang sama. Satu tanggal untuk satu umat.
Persatuan itu bukan sekadar mimpi di siang bolong. Ia adalah kepastian yang hanya butuh keberanian kita untuk kembali pada presisi dalil. Meninggal di hari Jumat memang sebuah keberkahan bagi individu, namun memahami rahasia waktunya adalah kunci kejayaan bagi peradaban Islam.
Mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perbedaan dan mulai menata kembali waktu kita. Karena ketika umat Islam sudah mampu menyatukan jam dan kalendernya, saat itulah kita benar-benar siap untuk melangkah bersama sebagai satu tubuh yang utuh. Bagaimana menurut Anda? Apakah sudah saatnya kita bersatu dalam satu komando waktu?

Posting Komentar
Posting Komentar