Selama berabad-abad, masyarakat Muslim secara umum
meyakini bahwa pergantian hari dalam kalender Hijriah terjadi saat matahari
terbenam atau waktu Maghrib. Anggapan ini begitu melekat sehingga istilah
"Malam Jumat" langsung disematkan begitu adzan Maghrib berkumandang
di hari Kamis. Namun, jika kita menelaah lebih dalam secara ilmiah dan syar’i,
muncul sebuah pertanyaan besar: Adakah
dalil yang tegas (sharih)
dalam Al-Qur'an maupun Hadits yang menyebutkan Maghrib adalah awal hari?
Faktanya, tidak ditemukan satu pun nash yang secara
eksplisit menyatakan bahwa setiap hari baru dimulai dari kegelapan malam.
Sebaliknya, indikasi kuat dalam syariat justru menunjuk pada waktu Fajar atau Subuh sebagai titik
tolak kehidupan dan ibadah harian.
Jejak Sejarah dan Bahaya Tasyabbuh
Secara historis, konsep hari yang dimulai pada malam
hari (sunset) adalah ciri khas utama Kalender Yahudi. Dalam tradisi mereka, malam
mendahului siang. Islam hadir dengan semangat Tamyiz—menampilkan identitas yang berbeda dan
unggul. Rasulullah SAW sangat menekankan umatnya untuk menghindari Tasyabbuh (menyerupai kaum lain)
dalam hal syiar dan peribadatan. Menjadikan Maghrib sebagai awal hari tanpa
landasan dalil yang kuat berisiko menjebak umat dalam imitasi buta terhadap
sistem penanggalan bangsa lain yang secara teologis berbeda.
Kekuatan Dalil Cahaya
Islam adalah agama yang memuliakan cahaya. Allah SWT
berulang kali bersumpah demi waktu fajar (Wal-Fajr). Secara filosofis, fajar melambangkan
kebangkitan dan kemenangan atas kegelapan. Dalam hukum Islam, semua ibadah
utama memiliki garis start di
waktu fajar.
1.
Puasa: Kewajiban menahan diri dimulai sejak terbit
fajar (fajar shadiq),
bukan dari Maghrib.
2.
Shalat: Urutan shalat lima waktu dalam banyak riwayat
menempatkan Subuh sebagai pembuka hari.
3.
Ibadah Haji: Batas akhir wukuf di Arafah adalah fajar.
Jika seseorang melewati waktu fajar tanpa sempat berada di Arafah, ia dianggap
kehilangan hari tersebut.
Secara bahasa, kata 'Yaum' (hari) dalam bahasa Arab seringkali merujuk
pada keberadaan cahaya matahari. Memulai hari dengan kegelapan saat manusia
justru diperintahkan untuk beristirahat dan tidur, secara fitrah tampak
kontradiktif dengan semangat kerja dan produktivitas yang diajarkan Islam.
Rasulullah SAW mendoakan keberkahan bagi umatnya di waktu pagi: "Berpikirlah (bekerjalah) pada
pagi hari, karena di sana terdapat keberkahan bagi umatku."
Meluruskan Logika Kalender
Banyak orang terjebak dalam kerancuan antara penentuan bulan dan penentuan hari. Memang benar
bahwa hilal (bulan baru) dipantau saat Maghrib untuk menentukan perpindahan
bulan dalam kalender lunar. Namun, menggunakan teknis penentuan bulan untuk
menetapkan awal setiap hari adalah sebuah lompatan logika yang tidak didukung
oleh dalil yang kuat.
Kesimpulan
Mengembalikan awal hari ke waktu Subuh bukan sekadar
perdebatan teknis jam, melainkan upaya menjaga integritas identitas Muslim.
Dengan menjadikan Subuh sebagai titik awal, umat diajak untuk memulai hari
dengan sujud dan semangat ibadah di waktu yang paling berkah. Sudah saatnya
kita kritis terhadap tradisi turun-temurun dan kembali pada fitrah yang terang
benderang: bahwa hari dalam Islam dimulai saat fajar menyingsing, bukan saat
cahaya menghilang.
Posting Komentar
Posting Komentar